Kehidupan Tanpa Jam

psikologi waktu yang mengalir mengikuti ritme biologis tubuh

Kehidupan Tanpa Jam
I

Mari kita bayangkan sebuah pagi yang biasa. Kita sedang terlelap, mungkin sedang bermimpi indah, lalu tiba-tiba sebuah suara melengking menghancurkan segalanya. Alarm berbunyi. Jantung kita berdebar sedikit lebih cepat. Kita terpaksa bangun, bukan karena tubuh kita sudah cukup istirahat, tapi karena angka di layar gawai menunjukkan pukul 06.00 pagi. Pernahkah kita berhenti sejenak dan menyadari betapa anehnya rutinitas ini? Kita membiarkan hidup kita disetir sepenuhnya oleh sebuah mesin penghitung angka. Kita makan siang karena jarum jam menunjuk angka dua belas, bukan karena perut kita keroncongan. Kita memaksakan diri memejamkan mata karena sudah jam sebelas malam, padahal otak masih segar bugar. Selama ini, kita hidup sebagai tawanan waktu mekanis. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan tubuh kita jika kita membuang semua jam yang ada, dan membiarkan hidup mengalir murni mengikuti ritme biologis?

II

Untuk menjawabnya, kita harus mundur sedikit ke belakang. Secara historis, manusia sebenarnya tidak pernah didesain untuk peduli pada menit atau detik. Selama ribuan tahun, nenek moyang kita hidup dalam event time atau waktu berbasis peristiwa. Mereka bertani saat matahari terbit, berteduh saat matahari terlalu terik, dan tidur saat gelap gulita. Semuanya mengalir begitu saja. Barulah saat Revolusi Industri meledak di abad ke-18, para pemilik pabrik butuh cara agar ribuan pekerja bisa datang dan bekerja secara serentak. Di situlah clock time atau waktu mekanis mulai menjajah kehidupan kita. Kita mulai dibayar berdasarkan jam, bukan hasil. Waktu tiba-tiba berubah menjadi uang. Namun, ada sebuah eksperimen gila di tahun 1962 yang mencoba melawan arus ini. Seorang ilmuwan asal Prancis bernama Michel Siffre memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah gua es yang gelap gulita di pegunungan Alpen. Ia tinggal di sana selama dua bulan penuh tanpa jam tangan, tanpa kalender, dan tanpa sinar matahari. Ia hanya mengandalkan lampu redup, persediaan makanan, dan instingnya sendiri.

III

Banyak orang saat itu mengira Siffre akan berakhir kehilangan akal sehatnya. Tanpa jam, bagaimana ia tahu kapan harus tidur, bangun, atau makan? Bukankah manusia akan hancur jika kehilangan struktur waktunya? Di sinilah misteri mulai terkuak. Selama di dalam gua, Siffre mencatat semua aktivitasnya dan melaporkannya ke tim di luar gua melalui telepon. Hasilnya sungguh membuat para ilmuwan tercengang. Siffre tidak menjadi gila. Tubuhnya tidak kacau balau. Justru sebaliknya, tanpa disadari, tubuh Siffre menciptakan jadwalnya sendiri yang sangat teratur. Ia tertidur dan terbangun dalam siklus yang nyaris sempurna, meskipun siklus harinya sedikit lebih panjang dari 24 jam. Eksperimen ini memicu sebuah pertanyaan besar di dunia sains yang mungkin sering kita rasakan secara diam-diam. Jika tubuh kita sebenarnya memiliki "jam" sendiri yang begitu cerdas, mengapa kita sering merasa begitu kelelahan, stres, dan bersalah di dunia modern ini? Apakah rasa malas bangun pagi itu sebenarnya bukan kelemahan moral, melainkan sebuah bentuk pemberontakan biologis?

IV

Mari kita bedah fakta sainsnya. Di dalam otak kita, tepat di atas persilangan saraf mata, terdapat sekumpulan sel sebesar butiran beras yang bernama Suprachiasmatic Nucleus (SCN). Teman-teman, inilah jam tangan Rolex biologis kita. SCN adalah konduktor utama dari circadian rhythm atau ritme sirkadian tubuh kita. Masalahnya, SCN ini sama sekali tidak peduli dengan jadwal meeting Zoom kita atau jam masuk kantor. Ia hanya merespons dua hal: cahaya dan suhu. Sifat dari ritme sirkadian ini juga sangat dipengaruhi oleh genetik. Dalam sains, ini disebut chronotype. Ada orang yang genetiknya memang didesain menjadi early bird (aktif di pagi hari), dan ada yang secara evolusioner didesain menjadi night owl (aktif di malam hari). Di masa lalu, keberagaman genetik ini sangat berguna agar selalu ada orang yang terjaga untuk menjaga suku dari serangan predator di malam hari. Namun hari ini, dunia modern menghukum para night owl. Ketika kita memaksa tubuh yang secara genetik aktif di malam hari untuk bangun jam enam pagi setiap hari, kita mengalami apa yang disebut oleh para psikolog sebagai social jetlag. Kelelahan kronis yang kita rasakan bukanlah karena kita kurang minum kopi atau kurang motivasi. Kelelahan itu terjadi karena tubuh kita dipaksa hidup di zona waktu masyarakat yang bertentangan dengan zona waktu biologis kita sendiri.

V

Tentu saja, saya tidak menyarankan kita semua membuang jam tangan, resign dari pekerjaan, dan pindah ke dalam gua seperti Michel Siffre. Kita tetap butuh jam agar peradaban ini bisa berjalan dan kereta api tidak saling bertabrakan. Namun, memahami sains di balik waktu biologis ini seharusnya bisa memberi kita satu hal penting: empati pada diri sendiri. Kita tidak perlu merasa bersalah ketika tubuh menuntut untuk tidur siang sebentar di jam dua siang, karena secara biologis suhu tubuh kita memang sedang turun drastis di jam tersebut. Kita bisa mulai belajar menyelaraskan tugas-tugas berat di jam di mana kita merasa paling waspada secara alami, bukan karena angka di layar. Pada akhirnya, waktu mekanis hanyalah sebuah alat yang diciptakan manusia, bukan dewa yang harus kita sembah. Tubuh kitalah yang menyimpan kebijaksanaan tertua. Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dari obsesi melihat jarum jam, menarik napas panjang, dan mulai mendengarkan ritme detak jantung kita sendiri.